Bumerang Semarang Muncul di Subang

Senin, 05 Desember 2011 18:21 Redaktur

Bumerang

SUBANG (MGO) – Bumerang unik ditemukan pada sebuah paket kiriman Pos Kilat Khusus dari Semarang tujuan Subang namun Bumerang tersebut berbeda dengan yang lain, Bumerang ini berbentuk Kujang, senjata khas Etnik Sunda. Diterima Senin (5/12/2011). Dijelaskan penerimanya Tedi Widara (39) yang juga koresponden Media Gival Onlin.com, ternyata Kujang yang terbuat dari pertinax setebal 3 mm tersebut merupakan bumerang oleh penerimanya langsung dicoba di lapang alun-alun. Dilempar dan bisa kembali pada pelemparnya walau pun tidak baca mantra-mantra. Setelah diperhatikan Bumerang berbentuk Kujang ini perpaduan unik antara bentuk kujang dengan fungsi bumerang. Tetapi sport boomerang (bumerang olahraga), “Saya suka bentuknya,” ujarnya. Keunikan ini kata Teddy salah satu inovasi yang perlu diapresiasi dengan baik sebagai bahasa universal yang ditampilkan oleh seorang insinyur yang berrjiwa seni. Perpaduan antara Bentuk Kujang dengan Fungsi Bumerang sesuai catatan yang tertulis pada Wikipedia, Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat yang dibuat pertama kali sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Kujang juga merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Masih kata Tedi, menurut Sanghyang Siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda. Sedangkan bumerang, masih menurut Wikipedia, ialah senjata khas suku Aborigin di Australia yang kalau dilempar bisa kembali lagi. Gerakan bumerang adalah kombinasi translasi dan rotasi mirip dengan bilah helikopter. “Awalnya kegunaan bumerang adalah sebagai alat untuk berburu. Kemudian pada perkembangannya fungsi berburu berubah menjadi kesenangan dan olahraga,”ucapnya. Budaya dan seni, kata Teddy, adalah bahasa lokal yang mempertemukan umat manusia melalui kebutuhan dengan rasanya. Ini pun yang terjadi pada bumerang. Berkat sentuhan Ir. Haryo Pangarso, Sang Master sekaligus pengrajin Bumerang asal Semarang. Sentuhan seni dan kemampuan membuat bumerang melahirkan Bumerang dengan bentuk kujang yang unik.(*).

Kisah Cinta Kartosoewirjo: Dewi Siti Kaltsum Sosok Wanita Tegar Dibalik Sang Imam

Dibalik pasangan yang hebat ada cinta yang kuat. Mungkin itulah kalimat yang pas bagi pasangan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan Dewi Siti Kaltsum. Dua sejoli yang mengalami pasang surut dalam penegakan Darul Islam puluhan tahun silam. Kisahnya menjadi epik bagi anak cucu Islam kelak puluhan tahun mendatang. Iya sebuah cerita cinta dari Malangbong, Garut, Jawa Barat, untuk cahaya Islam di bumi Indonesia.

Perkenalan Kartosoewirjo dengan Dewi Siti Kaltsum terjadi saat pimpinan Darul Islam tersebut tengah mampir ke Malangbong, Garut, tahun 1928. Kebetulan Ayahanda Dewi adalah Ardiwisastra, salah seorang Ulama, Ajengan, dan Tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ternama di Garut. Niat Kartosoewirjo menyambangi kediaman Ardiwisastra semata-mata mengumpukan dana bagi keberangkatan KH. Agoes Salim ke Belanda demi berdiplomasi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dewi, kembang Malangbong yang kala itu tengah mengarungi masa dewasa, melihat sosok laki-laki yang berbeda mengetuk pintu rumahnya. “Siapa ia?” tanya Dewi dalam hatinya. Laki-laki itu bagi Dewi tidak seperti laki-laki pada umumnya. Kartosoewirjo pandai bicara, namun bukan gombal. Pengetahuannya tentang Islam pun tidak datar. Orang yang mendatangi ayahnya pasti bukan orang sembarangan.

Kala itu, Kartosoewirjo tengah menjabat Sekretaris Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada Desember 1927, Kartosoewirjo terpilih sebagai Sekretaris Umum Partai Sarekat Islam Indonesia-sebelumnya masih bernama Partij Sjarikat Islam Hindia Timoer. Sejak itu, ia banyak melakukan perjalanan ke cabang-cabang Sarekat Islam di seluruh Nusantara.

Dewi pun mulai tahu aktivitas Kartosoewirjo yang penuh dengan dunia gerakan. Maklum saat itu Dewi mulai berkecimpung dalam bidang penuh resiko tersebut. Darah pergerakan turun dari sang ayah yang terkenal gigih melawan Belanda dengan semangat perlawanan Islam terhadap Imperialisme Barat.

Dewi amat terkesan dengan sikap hidup sang ayah. Pada usia delapan tahun, ibunya sudah mengajaknya berjalan kaki belasan kilometer ke Tarogong, Garut, untuk menengok ayahnya yang ditahan Belanda. Dan itu amat membekas dalam hatinya.

Ardiwisastra ditahan Belanda karena bersama sejumlah ajengan memelopori pembangkangan terhadap perintah Belanda, yang mewajibkan penjualan padi hanya kepada pemerintah Hindia Belanda. Pada 1916, Belanda menembak mati Haji Sanusi, tokoh berpengaruh di Cimareme, Garut. Terjadi pula penangkapan secara besar-besaran terhadap para ajengan, termasuk Ardiwisastra dan santri-santrinya.

Setahun setelah pertemuan itu, pada April 1929, Kartosoewirjo resmi menikahi Dewi di Malangbong. Ardiwisastra, sang mertua sendiri, sama sekali tidak melihat sang menantu dari fisik. Akhlak dan kejujuranlah yang tampaknya membuat Ardiwisastra menjodohkannya dengan sang putri yang kala itu menjadi kembang desa di Malangbong.

“Apakah calon menantunya tampan atau buruk muka tidak penting,” kata Ardiwisastra kepada Pinardi, penulis buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terbitan 1964.

Rupanya Dewi pun mengakui hal serupa. Secara jujur, ia tidak menjadikan wajah sebagai prasyarat pinangan sang Imam diterima, “Kalau disebut karena cinta, Bapak itu sebetulnya orangnya (mukanya) kan jelek,” tutur Dewi lugu kepada majalah Tempo, tahun 1983.

Rupanya Dewi tidak salah pilih. Ia mengaku mendapatkan selaksa cinta yang tinggi dari suaminya. Laki-laki soleh yang menyerahkan segala hidupnya demi Islam. Laki-laki penuh sahaja yang dikenal sebagai biduk kasihnya sepanjang masa. Dengarlah tuturan Dewi berikut ini:

“Aku memang tidak salah pilih. Disinilah aku mulai mengenal dan belajar tentang sikap dan sifat suamiku. Ia ternyata seorang laki-laki yang penuh tanggung jawab pada keluarganya dan menyayangiku. Ia tak segan–segan memperkenalkanku, istrinya yang dari kampung dengan kawan-kawan seperjuangannya yang terpelajar dan terhormat.

“Bahkan dua bulan setelah kami berada di Jakarta, mungkin atas prakarsa teman-temannya, perkawinan kami dirayakan di rumah Pak Cokroaminoto. Aku ingat benar pesta yang sederhana tapi amat mengesankan itu ber-langsung pada tanggal 12 Zulhijjah. “

Sebagai seorang aktivis partai dengan jabatan Sekjen PSII waktu itu, hari-hari
Kartosoewirjo sangatlah sibuk. Namun demikian, kepentingan keluarga tak pernah diabaikannya. Ia faham posisinya sebagai kepala keluarga yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Oleh istrinya, Kartosoewirjo dikenal sebagai seorang lelaki yang tinggi akhlaknya, suami yang sangat santun pada sang istri dan penuh kasih sayang pada anak-anaknya. Ini pernah diutarakannya Dewi sendiri yang menuturkan kisahnya kepada Tatang Sumarsono, yang dimuat bersambung di suatu majalah Amanah.

Pada perkembangannya, kecintaan dan keikhlasan Dewi terhadap suaminya betul-betul diuji saat mengarungi perjuangan. Dewi, anak kyai itu, berkembang menjadi istri diluar pada umumnya. Jika para pribumi yang menikah dengan Meneer Belanda biasa menikmati pesta pora beserta alunan nada. Dewi harus ikut bergerilya menghindari kejaran tentara Indonesia.

Jika para kembang Desa memilih hidup berdiam diri atas kondisi yang ada, bersama suami, Dewi malah keluar-masuk hutan demi tegaknya Syariat Islam di bumi Nusantara. Dewi sudah menasbihkan diri untuk bertahan diliputi rasa takut semata-mata pengabdian besar seorang istri terhadap sang suami.

Lantas, apakah kunci yang membuat Dewi bisa mempertahankan cintanya kepada Kartosoewirjo meski hidup dan mati adalah dua kata yang dekat kepadanya? Yang mau hidup penuh kesederhanaan walau sang ayah terkenal sebagai ningrat di Jawa Barat? Adalah pendidikan agama yang menjadi kunci kekuatan Dewi untuk tidak mengeluh dan tetap sabar meski hidup penuh kesederhanaan.

“Akibatnya, kami memang tak punya rumah tetap, pindah dari rumah sewa ke rumah sewa lainnya. Tapi aku sendiri tidak mengeluh. Sebagai istri yang mendapat pendidikan agama cukup lekat dari orangtua, kuterima segalanya dengan rasa syukur. Karena itulah, boleh jadi kehidupan keluarga kami berjalan tenang, kalau tidak dikatakan bahagia.” Aku Dewi.

Bersama Kartoesowirjo, Dewi melahirkan 12 anak. Lima di antaranya meninggal. Tiga anak terakhir: Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono, lahir di tengah hutan. Anak-anak yang lain lahir di rumah.

Mereka: si sulung Tati yang meninggal ketika masih bayi, Tjukup yang tertembak dan meninggal pada 1951 di hutan pada usia 16 tahun, Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal pada usia 10 tahun karena sakit), Sholeh yang meninggal ketika bayi, Tahmid, Abdullah (meninggal saat bayi), Tjutju yang lumpuh, dan Danti.

Sebagai perempuan, Dewi mulanya takut hidup di hutan. Kala itu Dewi sudah menggendong Danti yang baru berusia 40 hari. Dewi sempat berpikir tentang masa depan anak-anaknya. Gurat kesedihan mulai timbul dalam sekat wajahnya meratapi impian tak sesuai kenyataan. Namun, sosok Kartosoewirjo lah yang setia berada disampingnya, untuk menghibur, meyakinkan, dan “menggenggam kuat jemari di tangannya”. Dan Dewi langsung merasa tenteram.

Sebelum menjalani eksekusi mati, Kartosoewirjo sempat berwasiat di hadapan istri dan anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta. Menurut Dewi, saat itu Kartosoewirjo antara lain berkata tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun mendatang. Dewi menitikkan air mata. Kartosoewirjo, yang mencoba tabah, akhirnya meleleh. Perlahan-lahan, dia mengusap kedua matanya.

Betapa besar cinta Kartosoewirjo kepada istrinya. Ia menangis di depan istrinya, bukan ia kalah terhadap rezim sekuler yang mencoba membunuhnya, bukan jua menyesal atas perjuangannya yang meski meminta taruhan nyawa, namun air mata itu adalah bukti cinta Kartosoewirjo yang besar kepada sang istri, ya kembang Malangbong yang senantiasa menemaninya meski hidup penuh onak dan duri.

Air mata Dewi semakin jatuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Rasa bangga bercampur haru meliputi hatinya karena memiliki sosok suami seperti Kartosoewirjo yang tetap meyakinkannya tentang arti cinta sebenarnya: Cinta kepada Allahuta’ala, karena dunia hanyalah persinggahan sementara.

Cinta mereka akhirnya harus usai, cinta Dewi kepada suaminya mesti dipisahkan timah panas ketika aparat keamanan menangkap Kartosoewirjo setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat dan menghukum matinya pada September 1962.

Dewi pun menyusul cinta sejatinya itu pada tahun 1998. Lahir pada 1913, Dewi wafat dalam usia 85 tahun. Bersebelahan dengan makam Dewi adalah kuburan Raden Rubu Asiyah, ibundanya, perempuan menak asal Keraton Sumedang, Jawa Barat.

Namun pepatah “cinta sejati akan dibawa sampai mati” memang betul adanya. Di pemakaman ini Kartosoewirjo masih memendam cinta, cintanya kepada sang istri yang telah menemaninya puluhan tahun baik suka maupun duka. “Bapak ingin jenazahnya dekat dengan keluarga Malangbong,” kata Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo.

Inilah kisah cinta sejati yang tertutup di tengah pemberitaan miring tentang NII pasca dibonceng oleh NII KW IX.. Semoga Allah mempertemukan mereka kembali di jannah kelak. Allahuma amin. Allahua’la

Ditulis dalam Informasi. 5 Comments »

Rahasia Sikap Mental Pengusaha

Banyak orang yang mencoba untuk berwiraswasta, tak semuanya berhasil. Pendiri Grup Saratoga dan Recapital Sandiaga Uno menceritakan rahasia suksesnya.

Pengusaha muda yang juga orang terkaya nomor 27 di Indonesia ini menekankan bahwa sikap mental adalah modal utama bagi calon pengusaha. Sikap mental ini harus dimiliki pengusaha dan calon pengusaha yang ingin berhasil.

Pertama, seorang wirausahawan harus punya pola pikir seperti pengusaha. “Mereka harus punya paradigma yang positif dan optimis,” kata Sandiaga saat ditemui Yahoo! di kantornya, 26 April lalu.

Sandiaga sendiri mulai berwiraswasta setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja pada 1997. Untuk memulai usaha, modal bukan hal yang dinilai penting oleh Sandiaga. Tabu baginya untuk berkata “saya mau mulai berusaha tapi tak ada modal”.

“Kuncinya adalah kemauan. Begitu kemauan ada, harus ada keberanian,” kata dia. Keberanian tersebut akan menjadi modal yang paling utama dengan dukungan ide, rencana mencapai kesuksesan, kemampuan berjejaring dan kepercayaan dari kolega bisnis.

Dengan rangkuman bisnis yang solid tersebut, Sandiaga percaya, bukan pengusaha yang akan mencari modal melainkan modal yang akan menghampiri. Saat mengawali usahanya, Sandiaga mengakui bahwa menjalin usaha memang sangat sulit. Pernah selama enam bulan dia tak mendapatkan satu klien pun. “Sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari investor,” kata dia.

Seorang pengusaha juga harus mengubah paradigmanya, bukan lagi sebagai karyawan yang menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan. Kondisi terjamin itu membuat karyawan tak suka mengambil risiko. Padahal, seorang pengusaha harus berani mengambil risiko.

“Pengusaha jatuh bangun karena bisnis memang penuh risiko,” kata dia. Sandiaga menekankan bahwa kesuksesan tak pernah instan. Kesuksesan hanya dapat dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah.

Ditulis dalam Informasi. 2 Comments »

Foto Memalukan Anak SD Indonesia yg tersebar di media barat

Foto memalukan ini mulai dipublikasi dibeberapa website internasional. memalukan, foto tersebut seolah menggambarkan anak anak Indonesia saat ini.
Dalam foto tersebut terlihat seorang anak perempuan yang menggunakan pakaian putih merah untuk seorang anak SD yang sedang mengacungkan jari tengah kepada seorang pengemis. entah siapa pengemis tersebut. Bahkan sang anak tersebut juga belum diketahui siapa dan latar belakangnya.

Foto ini banyak diedarkan di website luar negri dan kebanyakan pada website luar negri yang isinya mengenai foto foto dan foto ini ditempatkan dengan judul “Parenting Fails”.

Selain foto tersebut ada satu lagi foto dari Indonesia :
Foto yang ditempatkan “Parenting Fails” ini juga dari indonesia. anak tersbut juga pernah menjadi buah bibir dan bahkan diliput oleh wartawan luar negri.

inikah gambaran generasi muda Indonesia kita sekarang ?

Ditulis dalam Informasi. 1 Comment »

Bentuk Tubuh Paling Diinginkan Wanita

Delapan dari sepuluh wanita lebih memilih tubuh berisi seperti Christina Hendricks.
Jum’at, 21 Januari 2011, 21.00 WIB

Kim Kardashian (celebster.info)

//

Tubuh kurus seperti Kate Moss dan Victoria Beckham tampaknya tak lagi diminati oleh banyak wanita. Padahal dulu tubuh yang sangat ‘tipis’ menjadi tren karena banyak selebriti yang memiliki tubuh kurus

Dari survei yang dilakukan pada 60.000 wanita oleh Look Magazine, diketahui delapan dari sepuluh wanita lebih memilih tubuh berisi seperti Christina Hendricks dibandingkan tubuh kerempeng seperti Victoria Beckham. Para wanita tidak menganggap tubuh kurus adalah figur sempurna.

Sebanyak 80 persen wanita lebih memilih memiliki tubuh Christina dan 20 persen memilih memiliki tubuh Victoria Beckham. Lebih dari sembilan dari sepuluh orang mengungkap wanita dari berbagai ukuran bisa tetap tampil gaya. Lalu, lebih enam dalam sepuluh ingin melihat foto ‘nyata’ model perempuan di majalah mode.

“Lima bulan lalu menggunakan model dengan tubuh berisi selalu menjadi perdebatan. Tetapi sekarang 94 persen pembaca kami percaya wanita dengan berbagai ukuran bisa tampil fashionable, dan penting bagi majalah mode untuk menonjolkannya,” kata Ali Hall, Editor dari Look Magazine, seperti dikutip dari Daily Mail.

Survei juga membuat daftar bentuk tubuh lima selebriti yang paling didambakan. Tidak ketinggalan bentuk tubuh selebriti yang paling tidak diinginkan.

Lima selebriti yang bentuk tubuhnya paling didambakan
1.  Beyonce
1.  Kelly Brook
3.  Rihanna
4.  Kim Kardashian
5.  Christina Hendricks

Lima selebriti yang bentuk tubuhnya paling tidak diinginkan
1.  Kate Moss
2.  Victoria Beckham
3.  Kylie Minogue
4.  Kristen Stewart
5.  Gisele Bundchen

Terungkap, Pembunuhan 1.700 Tahun Lalu?

Mumi

VIVAnews — Sebuah mumi Mesir berusia 1.700 tahun menyimpan sebuah misteri. Siapapun identitas mumi itu, ia diduga tewas tak wajar.

Mumi itu adalah seorang anak kecil yang hidup sekitar 350 tahun sebelum Masehi. Sabtu lalu, para ilmuwan melakukan pemindaian (scan) untuk mengetahui jenis kelaminnya.

Awalnya, pada pengujian pertama 17 tahun lalu, mumi yang disimpan di Museum Saffron Walden di Essex, Inggris diduga sebagai bocah laki-laki.

Uji sinar X dilakukan setelah Dr Christina Riggs, dari University of East Anglia meneliti mumi itu.

Ia mengatakan, pita yang  membungkus mumi serupa dengan pita yang digunakan untuk  membungkus mumi perempuan di Thebes dalam  periode waktu yang relatif sama.

Belakangan, hasil scan mengungkapkan ia kemungkinan besar adalah seorang gadis kecil.

Tak hanya itu, pemindaian dengan sinar X di Addenbrooke’s Hospital, Cambridge, Inggris, mengungkap sebuah rahasia kelam. Bocah itu mungkin tewas secara mengenaskan.

Investigasi menyebutkan, bocah yang jenis kelaminnya belum dipastikan itu mengalami pecah di bagian tengkorak dan tulang lehernya patah sebelum meninggal.

Ahli radiografi syaraf, Halina Szutowicz menduga, bocah itu dibunuh.

Meski, “ini bisa jadi karena jatuh atau kecelakaan, seperti yang umum terjadi pada kematian anak. Tapi kami tak bisa memutuskannya,” kata dia seperti dimuat Daily Mail.

Namun, “ada banyak luka yang mungkin berujung pada kematian anak ini. Kami belum yakin, tapi kami punya dugaan. Kami masih menunggu pendapat radiologis sebelum mengumumkan hasil pastinya.”

Para ilmuwan merasa beruntung melakukan pemindaian pada tubuh mumi itu. “Ini sangat istimewa, untuk bisa sedekat ini dengan sesuatu yang sangat kuno,” tambah Szutowicz.

Ingin Bugar? Bangun Lebih Pagi

Ingin Bugar? Bangun Lebih Pagi

Sebagian besar dari kita pasti tahu, bangun pagi baik untuk kesehatan. Tapi kebanyakan dari kita masih kesulitan untuk beranjak dari tempat tidur saat matahari baru akan menampakkan sinarnya.

“Itu adalah cerita klasik,” ucap Jorge Cruise, penulis buku 3-Hour Diet On the Go. Dan untuk cerita klasik ini, Cruise telah menyiapkan langkah sederhana yang bisa kita mulai lakukan esok hari.

“Lakukanlah secara perlahan-lahan,” Cruise menyemangati. Esok pagi, coba bangun 10-15 menit lebih cepat dari biasanya. Lalu lakukan beberapa gerakan yoga yang sederhana untuk melenturkan tubuh. Setelah itu Cruise menyuruh kita untuk melakukan sit-up. “Ini semua bisa dilakukan tanpa perlu mengganti baju tidur kita. Lusa, cobalah dengan olahraga yang sedikit berbeda seperti naik turun tangga atau keliling komplek rumah dengan sepeda.

Langkah sederhana ini memang tidak serta merta membuat kita masuk dalam kategori pecinta olahraga. Tapi setidaknya kita membuat 10-15 menit bangun lebih awal menjadi suatu aktivitas yang nyata. “Jika ini sukses dilakukan, maka silahkan masuk ke level olahraga berikutnya.” Dan langkah berikutnya itu adalah membuat kita 5 menit lebih cepat menyambut hari, “Sampai nanti kita benar-benar bisa bangun 30 menit lebih cepat!”

Saat sampai pada 30 menit lebih cepat untuk bangun pagi, Cruise menyakini, kita akan terbiasa bahkan merindukan udara serta sinar matahari pagi. Ini artinya, kita tidak perlu berkali-kali menekan tombol snooze pada alarm jam atau handphone kita. (Preventiononline/Siagian Priska) Kompas.com

Ditulis dalam Informasi. 1 Comment »